Rute Belajar di Kampung Pogung, Agar Sampai ke Tujuan

Bismillah. Segala puji hanyalah milik Allah Ta’ala, Dzat yang telah mencipatkan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa yang paling baik amalannya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga dan shahabat beliau, serta orang-orang yang berusaha mengikuti mereka dengan baik.

Ahlan wa sahlan! Selamat datang para pemuda muslim harapan umat. Adalah sebuah kenikmatan manakala Allah Ta’ala memberikan kesempatan kepada antum untuk merasakan duduk di bangku perkuliahan untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi. Kenikmatan tersebut terasa jauh lebih sempurna apabila Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita taufik untuk turut memikirkan kehidupan akhirat kita. Menjadi seorang pemuda yang perhatian dengan agamanya, menjadi pemuda yang meletakkan dunia di tangannya, sementara akhirat ada dalam hatinya.

Pandai dunia namun buta agama

Menjadi seorang mahasiswa yang bergelut dalam ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat bukanlah suatu hal yang tercela. Hal itu menjadi tercela tatkala kesibukannya dalam dunia kampus melalaikannya dari akhirat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sementara mereka lalai dari akhirat” (QS. Ar Ruum : 7)

Sebab itu, mari kita upgrade cita-cita kita dalam mengarungi dunia perkuliahan ini. Jadilah seorang insinyur, ilmuwan, dokter, peneliti, atau apapun itu, yang bertakwa kepada Allah, mengetahui halal-haram, dan berakhlak mulia. Dengan itu, antum telah menggapai kebaikan dunia dan akhirat. Berusaha mewujudkan cita-cita tersebut adalah bentuk ikhtiar antum untuk terkabulnya doa yang sering dipanjatkan, “Ya Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka” [1]

Memanfaatkan waktu muda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima hal : (1) masa mudamu sebelum masa tuamu, (2) masa sehatmu sebelum sakitmu, (3) kecukupanmu sebelum kemelaratanmu, (4) waktu kosongmu sebelum waktu sibukmu, (5) kehidupanmu sebelum kematianmu” (HR. Al Hakim, dinilai shahih oleh Al Albani)

Saudaraku, antum sedang berada di fase emas dalam kehidupan antum! Masa muda. Masa yang hanya di lalui sekali saja. Oleh karenanya, manfaatkan waktu muda antum.

Dr. Anis Karzun mengatakan, “Penuntut ilmu seharusnya memanfaatkan masa mudanya sebelum ia pergi berlalu. Karena belajar di masa muda dengan akal yang prima dan tidak banyak pikiran akan membuat hafalan lebih kuat dan kokoh”[2]

Masa perkuliahan masa emas

Jika kita perhatikan, sebenarnya seorang mahasiswa memiliki waktu senggang yang cukup banyak. Dengan fleksibilitas jam perkuliahan dalam seminggu, sangat mungkin bagi seorang mahasiswa untuk mendalami ilmu agama di luar jam kuliah, meskipun sebenarnya ia memiliki beban tugas dan laporan. Hanya saja, ketidakpandaian mengatur waktu, terlalu aktif dalam organisasi, game, anime, membuat sebagian mahasiswa “sibuk” sehingga “tidak sempat” belajar tahsin, menambah hafalan Al Qur’an, belajar bahasa arab, ataupun menghadiri majelis ilmu.

Masa’ sih?

Ust. Fauzan bin Abdillah, S.T., Lc., M.A., Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc., Ust. Ammi Nur Baits, S.T., B.A., dan lain-lain adalah diantara bukti bahwa kuliah sembari mengaji adalah sesuatu yang mungkin. Tidak ada alasan kita tidak punya waktu. Kecuali memang kitanya saja yang sok sibuk, atau Allah belum memberi taufik untuk menuntut ilmu agama. Kuncinya, mereka pandai mengatur waktu, dan mereka mau belajar. Intinya, kita bisa insya Allah!

Luruskan niat, bulatkan tekad

Sebelum memulai pembahasan tentang tahapan belajar, penulis hendak mengingatkan, khususnya kepada penulis sendiri, agar berusaha ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam belajar. Ikhlas memang berat. Bahkan sangat berat. Namun, mari berusaha menjaga niat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun perlu diperhatikan, perasaan hati yang tidak ikhlas kepada Allah jangan dijadikan alasan untuk berhenti belajar.

Dr, Anis Karzun mengatakan, “Para ulama mewanti-wanti, tidak sepatutnya penuntut ilmu meninggalkan aktifitas belajarnya ketika ia menyadari ada riya di hatinya. Namun, hendaknya ia berusaha meluruskan niat sambil terus belajar, menyebarkan ilmu, dan mengajarkannya”[3]

Perjalanan menuntut ilmu di Pogung

Saudaraku yang dirahmati Allah… Kini, Allah telah menganugerahi dirimu untuk berada di salah satu tempat yang paling ideal untuk mewujudkan visi menjadi mahasiswa yang bertakwa, kampung Pogung. Lantas, bagaimanakah peta perjalanan menuntut ilmu yang ideal di kampung ini?

Kita ketahui, di kampung Pogung terdapat berbagai macam ma’had mahasiswa dengan masing-masing visinya. Kampus Tahfizh tempat belajar tahsin Al Qur’an,  Ma’had Umar bin Khattab tempat belajar bahasa arab, dan Ma’had Al Ilmi tempat belajar ilmu syar’i secara terstruktur. Dan ma’had-ma’had lainnya yang memiliki spesialisasi tersendiri.

Sebelumnya, ada poin penting yang harus diperhatikan, yakni menuntut ilmu itu harus bertahap, mulai dari dasar. Imam Az Zuhri rahimahullah mengingatkan, “Siapa yang ingin menguasai banyak ilmu secara sekaligus, akan hilang ilmu tersebut sekaligus pula. Akan tetapi, ilmu itu dicari sedikit demi sedikit bersama berlalunya siang dan malam” [4]

Oleh karenanya, tidak sepatutnya kita ingin segera masuk Ma’had Al ‘Ilmi tanpa belajar bahasa arab sebelumnya. Atau mengikuti pembahasan fiqih yang detail tanpa belajar matan fiqih yang ringkas sebelumnya. Atau mengikuti pembahasan ilmu jarh wat ta’dil atau takhrij hadits tanpa pernah mencicipi ilmu mushthalah hadits dasar sebelumnya. Sabar, bertahap, dan tidak tergesa-gesa. Itu kuncinya.

Berikut ini peta perjalanan menuntut ilmu di kampung Pogung yang ideal menurut pandangan penulis[5] :

Tahun pertama :

Target : Memahami ilmu nahwu dan sharaf dasar, mampu membaca Al Qur’an tanpa lahn jaliy, hafal juz 30 dan hadits arba’in.

Langkah 1 :

Mengikuti Kampus Tahfizh untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an guna menghindari lahn jaliy (kesalahan yang merubah makna) ketika membaca. Hal ini penting sekali utamanya apabila seseorang berniat menghafal Al Qur’an. Sebab, kualitas hafalan berbanding lurus dengan kualitas bacaan. Apabila seseorang tidak mampu membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, ia akan menghafal sesuatu yang tidak baik dan tidak benar. Kemudian, ketika hafalan sudah banyak namun ternyata masih ada kesalahan dalam hal makhraj, kaidah membaca mad, maupun cara membaca ayat-ayat gharibah, akan sulit dan butuh waktu untuk merekonstruksi ulang hafalan karena “irama” bacaan sudah terlanjur tertanam di kepala.

Oleh karenanya, mengikuti Kampus Tahfizh di semester pertama merupakan langkah ideal menurut penulis. Sambil memperbaiki bacaan, sambil menambah hafalan dan menyetorkannya. Wallaahu a’lam.

Langkah 2 :

Mengambil kelas nahwu dasar di Ma’had Umar bin Khattab. Untuk yang pertama kali belajar nahwu, harus sering mengulang, berlatih, dan bertanya apabila ada yang tidak paham. Belajar ilmu nahwu tidak boleh terburu-buru. Apabila belum paham, jangan malu untuk mengulang meski dinyatakan lulus ujian. Karena ilmu nahwu dasar (biasanya menggunakan kitab panduan Al Muyassar fi Ilmin Nahwi karya Ust. Aceng Zakariya) adalah pondasi untuk memahami kitab nahwu lanjutan, semisal Mulakhas atau Qawa’id Asasiyyah maupun Jami’ Durus Lughatul Arabiyyah. Selanjutnya, ia adalah pondasi utama untuk bisa membaca dan memahami bahasa arab gundul.

Sekali lagi, ulangi terus kitab Al Muyassar sampai paham dan jangan tergesa-gesa.

Diharapkan, semester pertama kitab Al Muyassar sudah dipahami dengan baik sehingga pada libur semester, kita bisa belajar ilmu sharaf dasar, ibu bahasa arab. Setelah itu, semester kedua kita dapat mendalami ilmu nahwu lebih jauh. Dengan bekal dua kunci ilmu bahasa arab ini, kita akan semakin siap untuk menempuh jenjang ilmu selanjutnya, yaitu menuntut ilmu syariah.

Ini skenario ideal. Namun apabila penguasaan bahasa arab dirasa masih kurang, jangan ragu dan malu untuk mengulang di tahun kedua. Sementara itu, menuntut ilmu syar’i di Ma’had Al ‘Ilmi masih bisa dilakukan di tahun ketiga. Mengapa? Karena kita akan kesulitan memahami dan mengulang sendiri pelajaran di Ma’had Al ‘Ilmi apabila penguasaan bahasa arab dasar masih kurang.

Selain teori, praktek membaca kitab arab sangatlah penting untuk mengasah kemampuan bahasa arab. Penulis pernah menjumpai, ada orang yang sudah belajar sampai nahwu lanjut namun masih belum lancar membaca kitab. Kemungkinan hal ini disebabkan kurangnya latihan membaca kitab. Oleh karenanya, apabila sudah selesai belajar nahwu dan sharaf dasar, sebaiknya ikut kelas membaca kitab disamping kelas najwu lanjut, atau meminta tolong kepada senior yang dikenal memiliki kemampuan bahasa arab yang bagus untuk dibimbing belajar membaca kitab. Artinya, kita latihan membaca sambil mendalami ilmu nahwu lanjut.

Kedua langkah di atas menurut penulis mungkin untuk diambil bersamaan di tahun pertama. Yang penting, fokus terhadap target tahun pertama : memahami ilmu nahwu dan sharaf dasar, mampu membaca Al Qur’an tanpa lahn jaliy, hafal juz 30 dan hadits arba’in.

Note : Meskipun bisa dikatakan antum sedang berada dalam fase “persiapan”, namun bukan berarti tidak belajar ilmu syar’i sama sekali. Kita tetap wajib belajar ilmu syar’i, datang ke majelis ilmu untuk mempelajari apa saja kewajiban kita dan bagaimana cara menunaikannya. Jangan lupakan pula untuk hadir ke dalam kajian bertemakan tazkiyatun nafs. Di sana, kita akan temukan nutrisi hati agar hati tetap sehat. Sebagaimana dikatakan, “Sesungguhnya ilmu itu bak mutiara yang putih bersih. Tidak layak untuk dimiliki kecuali oleh hati yang juga bersih”

Tahun kedua :

Target : Mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi dengan baik sampai selesai.

Langkah :

Dengan bekal pemahaman bahasa arab dasar, hafalan juz 30, dan hadits arba’in di tahun pertama, langkah kita untuk menuntut ilmu syar’i di Ma’had Al ‘Ilmi insya Allah akan lebih mudah. Pada fase ini, kita akan mempelajari sebagian besar cabang ilmu syar’i. Menggunakan kitab-kitab yang memang ditulis untuk penuntut ilmu pemula, kesempatan belajar di Ma’had Al ‘Ilmi adalah fase terpenting dalam perjalanan menuntut ilmu di Pogung untuk membangun pondasi keilmuan kita.

Oleh karenanya, diharapkan dapat fokus dan konsisten dalam mengikuti setiap kegiatan Ma’had Al ‘Ilmi. Pahami dan hafalkan setiap materinya dengan baik, karena kita sedang membangun pondasi keilmuan kita. Apabila dibutuhkan, dapat mengurangi jadwal kajian di luar Ma’had Al ‘Ilmi jika kesulitan menemukan waktu untuk muraja’ah pelajaran.

Tantangan ketika mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi biasanya adalah mulai menumpuknya tugas kuliah dan laporan praktikum serta kesulitan untuk mencapai target hafalan Ma’had Al ‘Ilmi, yaitu hafal juz 29 dan 30 serta hadits Arba’in An Nawawiyyah. Di sini, kemampuan mengatur waktu sangat dibutuhkan. Misalkan, di waktu pagi, menghafal. Setelah itu pergi ke kampus sampai ashar. Kesempatan di kampus ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk mengerjakan tugas atau laporan. Sore sampai isya mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi. Setelah isya’, muraja’ah pelajaran dan meneruskan tugas kuliah jika masih ada.

Untuk membantu mencapai target hafalan di Ma’had Al ‘Ilmi, sebisa mungkin juz 30 dan hadits arba’in sudah dihafalkan di tahun pertama, sehingga tinggal menambah juz 29 pada tahun kedua. Jika bisa fokus mengikuti setiap pelajaran di Ma’had Al ‘Ilmi dan menghafal materi dengan baik, insya Allah kita akan mendapat kebaikan yang banyak dan merasakan manfaatnya di kemudian hari. Oleh karena itu, jika membutuhkan waktu lebih untuk muroja’ah pelajaran Ma’had Al ‘Ilmi, tidak mengapa mengurangi jadwal kajian rutin di luar Ma’had Al ‘Ilmi untuk sementara waktu. Wallaahul muwaffiq.

Tahun ketiga dan keempat :

Target : Mengembangkan keilmuan dan berkontribusi dalam dakwah

Langkah :

Apabila telah mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi di tahun kedua, target di tahun ketiga dan keempat adalah mengembangkan keilmuan kita di atas pondasi yang sudah dibangun selama belajar di Ma’had Al ‘Ilmi. Untuk mengembangkan keilmuan setelah Ma’had Al ‘Ilmi, bisa dengan cara berikut :

  1. Menghadiri kajian kitab rutin yang banyak diadakan di sekitar Pogung
  2. Mendengarkan rekaman kajian untuk cabang-cabang ilmu yang sudah dipelajari namun dengan kitab yang berbeda
  3. Membaca kitab secara mandiri dan bertanya kepada ustadz apabila ada penjelasan yang kurang dipahami
  4. Belajar secara khusus kepada salah seorang ustadz (sendiri atau bersama beberapa orang) apabila memungkinkan

Selesai Ma’had Al ‘Ilmi bukan berarti perjalanan menuntut ilmu sudah selesai. Bahkan, itu baru awalan. Teruslah belajar dan menghadiri kajian kitab rutin. Jangan jumawa dengan predikat “Alumnus Ma’had Al ‘Ilmi”, sebab itu tiada gunanya buat kita. Jangan lupakan pula kajian-kajian umum yang membahas tazkiyatun nafs, untuk tetap menjaga kondisi hati. Apabila hati baik, akan baik pula seluruh badan. Apabila hati rusak, rusak pula seluruh badan.

Berbekal ilmu yang sudah dipelajari dari Ma’had Al ‘Ilmi, sudah saatnya ikut berkontribusi secara langsung dalam dakwah baik secara lisan maupun tulisan. Secara lisan, bisa ambil bagian dalam kultum tarawih atau khutbah jum’at jika memungkinkan. Lewat tulisan, bisa ambil bagian menjadi kontributor untuk buletin jum’at (contohnya bulletin At Tauhid) atau situs Islam. Selain itu, kontribusi dalam dakwah bisa juga dengan menjadi pengurus ma’had, pengajar TPA, panitia kajian, dan lainnya. Karena secara teori, waktu luang yang dimiliki akan lebih banyak dibandingkan ketika mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi.

Jumlah hafalan Al Qur’an juga dapat ditingkatkan di tahun ketiga dan keempat. Mungkin bisa ditargetkan menghafal juz 27 dan 28 selama dua tahun terakhir perkuliahan, jika kuliahnya selesai 4 tahun. Kalau belum selesai juga, dijalani saja dengan tabah dan pasang target baru : juz 26. Hehe. Tapi jangan terlalu asyik kuliah, kasihan orang tua antum terus membayar spp tiap semester.

Sebagai seorang alumnus Ma’had Al ‘Ilmi, ilmu-ilmu yang sudah dipelajari diharapkan mampu menumbuhkan semangat dalam beramal dan membuahkan akhlak yang mulia. Hal ini penting untuk mempertanggung jawabkan ilmu yang telah dimiliki dan menjaga citra dakwah di mata masyarakat. Menyebarkan salam, menyapa warga sekitar masjid dan wisma, dan lain-lainnya. Jangan sampai seorang alumnus Ma’had Al ‘Ilmi menjadi pribadi yang tidak peduli dan tidak hormat terhadap masyarakat sekitarnya.

Penulis ingatkan juga, jangan sampai penuntut ilmu sibuk dengan fitnah. Ikut berbicara dalam masalah besar yang menyangkut kehormatan seorang muslim terlebih lagi seorang ustadz, apalagi berpotensi mencoreng dakwah salaf. Urusan yang besar tidak perlu dicampuri oleh orang-orang kecil, kecuali antum merasa antum adalah orang yang besar.

Menebar dakwah ke penjuru negri

Saudaraku yang dimuliakan Allah, mungkin pada saatnya, antum akan pergi meninggalkan Pogung untuk melanjutkan hidup. Mungkin ada yang meneruskan perjalanan menuntut ilmu syar’i di universitas Islam, atau melanjutkan studi program magister, atau memasuki dunia kerja. Jika antum berkeputusan untuk masuk ke dalam lingkungan yang majemuk, entah bekerja, menempuh studi S2, atau lainnya, jadikanlah kesempatan belajar di Pogung sebagai bekal untuk berdakwah kepada lingkungan sekitar. Tidak perlu ceramah, tetapi bisa dengan menjawab pertanyaan rekan kerja, mendengarkan permasalahan yang menimpa teman sejawat kemudian memberikan solusinya sesuai aturan Islam, bahkan menampakkan akhlak mulia di lingkungan antum menjadi ladang dakwah juga. Sebab, umumnya masyarakat akan menilai seseorang dari penampilannya. Dengan jenggot dan celana cingkrang, antum akan “di-ustadz-kan”, diminta untuk menjadi imam shalat, menjadi tempat bertanya rekan kerja, dan “diperhatikan gerak-geriknya”.

Oleh karena itu, apabila tidak memiliki pondasi keilmuan yang cukup, pilihannya hanya dua, terus menjawab “wallaahu a’lam” ketika ditanya dan akhirnya kesempatan berdakwah menjadi hilang, atau memaksakan diri menjawab tanpa ilmu. Penting pula untuk mengetahui masalah-masalah khilafiyyah, baik yang mu’tabar maupun tidak. Sebab, terjun ke lingkungan yang majemuk berarti berhadapan dengan orang-orang yang pemahamannya heterogen. Sehingga kita bisa longgar dalam suatu masalah yang memang termasuk khilaf mu’tabar, seperti khilafiyyah masalah qunut shubuh, dan tegas dalam masalah khilaf yang tidak mu’tabar, seperti khilaf antara akidah ahlus sunnah dan syi’ah.

Penutup

Saudaraku yang dirahmati Allah, pada dasarnya, penulis sendiri sebetulnya tidak benar-benar menjalankan poin-poin yang penulis sampaikan sebelumnya. Semoga Allah memaafkan dan memberi taufik kepada penulis untuk bisa lebih baik lagi. Namun, penulis ingin antum bisa memanfaatkan waktu di Pogung dengan baik, dan berhasil mengambil warisan Nabi yang tersebar sebanyak-banyaknya. Agar kelak menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat sekitar, dan menjadi kunci-kunci kebaikan untuk lingkungan antum. Jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya agar semua urusan antum dimudahkan.

Sebagai penutup, penulis sampaikan nasihat Imam Syafi’i rahimahullah kepada para pemuda. Beliau mengatakan [6],

اصبر على مرّ الجفا من معلم … فإن رسوب العلم في نفراته

ومن لم يذق مرّ التعلم ساعة … تجرع ذل الجهل طول حياته

ومن فاته التعليم وقت شبابه … فكبر عليه أربعا لواته

و ذات الفتى بالعلم و التقى … و إذا لم يكونا لا اعتبار لذاته

Bersabarlah atas sikap pahit dari seorang guru…

Karena gagalnya belajar adalah dengan menjauhinya…

Siapa yang belum pernah merasakan pahitnya belajar walau sesaat…

Akan meneguk hinanya kebodohan sepanjang hayatnya…

Siapa yang tidak belajar di masa muda…

Bertakbirlah empat kali atas kematiannya…

Jati diri seorang pemuda itu ada pada ilmu dan ketakwaan…

Tanpa ilmu dan takwa, dia tidak memiliki jati diri…

 

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin

 

Bintaro, 22 Dzulqa’dah 1438 / 15 Agustus 2017

Al faqir ila ‘afwi Rabbih

Yananto Sulaimansyah

Pernah tinggal di Pogung, santri Ma’had Al ‘Ilmi 1431/1433 (2010 – 2012), Teknik Mesin UGM 2008, karyawan swasta.

[1] QS. Al Baqarah : 201

[2] Adaabu Thaalibil ‘Ilmi, hal. 109

[3] Adaabu Thalibil Ilmi, hal. 33

[4] Dinukil dari Al Manhajiyyah fi Thalabil ‘Ilmi, hal. 11

[5] Uraian pada poin tersebut merupakan pandangan subjektif penulis hasil pengamatan beberapa tahun tinggal di Pogung

[6] Diwan Asy Syafi’i, hal. 29

Share Yuk....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


Rating*