Kerapkali Terjadi: Seseorang Punya Pikiran, Buat Apa Saya Belajar Agama dengan Serius?

Coba kita tanya pada diri sendiri, apakah ilmu agama 100% akan terpakai?

Betul. Ia akan terpakai di kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari bangun tidur, makan, ibadah, adab, akhlak, buang hajat, sholat, puasa, mengerti tauhid dengan baik dan lainnya. Semua ini akan terpakai.

Ustaz Ammi pernah berpesan, “kalian belajar ilmu dunia dengan sungguh-sungguh namun mungkin hanya rata-rata 20% nyang akan terpakai di dunia kerja. Tidak 100% kan anda pakai? Tapi kenapa kalian sangat serius?!

Sampai sini kita seharusnya paham bahwa belajar agama dengan serius tidak harus jadi ustadz besar.

Tapi…

Jadilah guru dan murid, dimanapun anda berada. Seseorang hendaknya jadi tipe pembelajar dan penasihat dimanapun ia.

Lalu mungkin akan disangkal, saya juga gak mau mengajarkan agama kok?

Bertakbilah! Bukankah kita ini akan menikah, punya keluarga mendidik anak dan istri, kita juga punya orang tua yang mungkin kita juga harus ajarkan, disekeliling kita masih banyak yang butuh diajarkan alif, ba, dan Ta.

Baik, lalu bagaimana menghilangkan mental blocking buat apa saya belajar agama nanti juga tidak jadi ustadz.”

Jawabannya: Berdoalah kepada Allah agar Allah tetap tunjukkan jalan yang lurus. Berilmu adalah sebuah tuntutan. Bukankah kita ingin masuk surga? Bahagia di akhirat? Terhindar dari neraka?. Semua itu butuh ilmu, ilmu agama. Ustadz pun juga belum tentu selamat. Bukankah kita pernah mendengar atau membaca bahwa menuntut ilmu akan memudahkan jalan menuju surga. Lantas sekarang….masih juga malas belajar??

Saya sekolah di universitas umum, gak mungkin saya bisa, gak ada waktu luang, banyak tugas, banyak praktikum, banyak organisasi.

Jawabannya: Kita terlalu paham akan masa depan sehingga kita bisa menilai takdir. Belajarlah. Bukankah kita juga tiap hari buka HP, buka medsos? Kita meluangkan untuk hal itu, lantas kenapa kita tidak meluangkan waktu untuk belajar agama?…apakah belum percaya akan akhirat itu nyata…lantas apa bekal kita?? Semua itu butuh ilmu agar amal kita diterima.

Lupakan hasutan syaithan yang tak pernah suka hambaNya belajar agama.

Yang sekarang harus dipikirkan,

Bagaimana saya bisa hafal Qur’an? Jawabannya pikirkanlah dulu bagaimana saya bisa hafalan Qur’an 1 hari sebanyak 1/2 halaman minimalnya*

Bagaimana saya bisa baca kitab dengan baik dan faham? Mulailah dengan belajar membaca 1 halaman tiap harinya

Bagaimana saya bisa mengusai nahwu dengan baik? Bagaimana saya bisa beribadah dengan baik?

Belajar dengan tekun, bismillah, seandainya kita diwafatkan dalam kondisi kita sedang belajar itu sudah cukup kita jadikan cita-cita mulia kita.

Ditulis oleh: Ustadz Herbi Yuliantoro, S.Si

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.