Perjalanan Menuntut Ilmu di Pogung

Kita ketahui, di kampung Pogung terdapat berbagai macam ma’had mahasiswa dengan masing-masing visinya. Kampus Tahfizh tempat belajar tahsin Al Qur’an,  Ma’had Umar bin Khattab tempat belajar bahasa arab, dan Ma’had Al Ilmi tempat belajar ilmu syar’i secara terstruktur. Dan ma’had-ma’had lainnya yang memiliki spesialisasi tersendiri. Sebelumnya, ada poin penting yang harus diperhatikan, yakni menuntut ilmu itu harus bertahap, mulai dari dasar.

Berikut ini peta perjalanan menuntut ilmu di kampung Pogung yang ideal menurut pandangan penulis.

Tahun Pertama :

Target : Memahami ilmu nahwu dan sharaf dasar, mampu membaca Al Qur’an tanpa lahn jaliy, hafal juz 30 dan hadits arba’in.

Langkah 1 :

Mengikuti Kampus Tahfizh untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an guna menghindari lahn jaliy (kesalahan yang merubah makna) ketika membaca.

Langkah 2 :

Mengambil kelas nahwu dasar di Ma’had Umar bin Khattab.

Kedua langkah di atas menurut penulis mungkin untuk diambil bersamaan di tahun pertama. Yang penting, fokus terhadap target tahun pertama.

Tahun Kedua :

Target : Mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi dengan baik sampai selesai.

Dengan bekal pemahaman bahasa arab dasar, hafalan juz 30, dan hadits arba’in di tahun pertama, langkah kita untuk menuntut ilmu syar’i di Ma’had Al ‘Ilmi  insya Allah akan lebih mudah. Tantangan ketika mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi biasanya adalah mulai menumpuknya tugas kuliah dan laporan praktikum serta kesulitan untuk mencapai target hafalan Ma’had Al ‘Ilmi, yaitu hafal juz 29 dan 30 serta hadits Arba’in An Nawawiyyah. Di sini, kemampuan mengatur waktu sangat dibutuhkan.

Tahun Ketiga dan Keempat :

Target : Mengembangkan keilmuan dan berkontribusi dalam dakwah.

Langkah :

Apabila telah mengikuti Ma’had Al ‘Ilmi di tahun kedua, target di tahun ketiga dan keempat adalah mengembangkan keilmuan kita di atas pondasi yang sudah dibangun selama belajar di Ma’had Al ‘Ilmi. Untuk mengembangkan keilmuan setelah Ma’had Al ‘Ilmi, bisa dengan cara berikut :

  1. Menghadiri kajian kitab rutin yang banyak diadakan di sekitar Pogung.
  2. Mendengarkan rekaman kajian untuk cabang-cabang ilmu yang sudah dipelajari namun dengan kitab yang berbeda.
  3. Membaca kitab secara mandiri dan bertanya kepada ustadz apabila ada penjelasan yang kurang dipahami.
  4. Belajar secara khusus kepada salah seorang ustadz (sendiri atau bersama beberapa orang) apabila memungkinkan.

Selesai Ma’had Al ‘Ilmi bukan berarti perjalanan menuntut ilmu sudah selesai. Bahkan, itu baru awalan. Teruslah belajar dan menghadiri kajian kitab rutin. Jangan jumawa dengan predikat “Alumnus Ma’had Al ‘Ilmi”, sebab itu tiada gunanya buat kita. 

Berbekal ilmu yang sudah dipelajari dari Ma’had Al ‘Ilmi, sudah saatnya ikut berkontribusi secara langsung dalam dakwah baik secara lisan maupun tulisan. Secara lisan, bisa ambil bagian dalam kultum tarawih atau khutbah jum’at jika memungkinkan. Lewat tulisan, bisa ambil bagian menjadi kontributor untuk buletin jum’at (contohnya bulletin At Tauhid) atau situs Islam.

Selain itu, kontribusi dalam dakwah bisa juga dengan menjadi pengurus ma’had, pengajar TPA, panitia kajian, dan lainnya.

Penulis ingatkan juga, jangan sampai penuntut ilmu sibuk dengan fitnah. Ikut berbicara dalam masalah besar yang menyangkut kehormatan seorang muslim terlebih lagi seorang ustadz, apalagi berpotensi mencoreng dakwah salaf. Urusan yang besar tidak perlu dicampuri oleh orang-orang kecil, kecuali antum merasa antum adalah orang yang besar.

Jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya agar semua urusan antum dimudahkan.

Ditulis oleh:  Ustadz Yananto Sulaimansyah

Pernah tinggal di Pogung, santri Ma’had Al ‘Ilmi 1431/1433 (2010 – 2012), Teknik Mesin UGM 2008, karyawan swasta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.